BIMnews.id | Banda Aceh
Dinas Pendidikan Aceh terus memperkuat budaya literasi di kalangan guru dan siswa melalui Forum Group Discussion (FGD) yang melibatkan guru bahasa Indonesia jenjang SMA dan SMK di Kota Banda Aceh dan Aceh Besar. Kegiatan yang berlangsung pada Selasa, 14 April 2026 di Opprom Dinas Pendidikan Aceh ini dibuka secara resmi oleh Kadisdik Aceh Murthalamuddin, S.Pd., MSP dengan fokus utama mendorong peningkatan minat baca dan kemampuan memahami teks di kalangan siswa.
FGD 3,5 jam ini difasilitasi oleh pegiat literasi Aceh, Yarmen Dinamika dan dihadiri juga oleh kalangan perguruan tinggi.
Dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universias Syiah Kuala (USK) hadir Drs Mukhlis A. Hamid MPd dan dari Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bina Bangsa Getsempena (UBBG) Banda Aceh hadir ketua prodinya, Wahidah Nasution MPd. Juga hadir Nurmasyitah SPd mewakili Balai Penjamin Mitu Pendidikan (BPMP) Aceh.
Dalam arahannya, Murthalamuddin MSP menekankan pentingnya menghadirkan program konkret yang mampu mengintegrasikan literasi ke dalam budaya sekolah.
Ia menyebutkan bahwa literasi tidak cukup hanya sebatas kegiatan membaca, tetapi harus menjadi gerakan yang terstruktur dan berkelanjutan.
“Literasi harus dibangun sebagai ekosistem, bukan sekadar aktivitas tambahan di sekolah bahakan bisa dijadikan budaya di sekolah,” ujar Murthalamuddin.
Salah satu target yang dicanangkan adalah terciptanya minimal 20 buku fiksi karya lokal yang dapat diedarkan di perpustakaan sekolah.
Upaya penulisan dan penerbitan buku ini dipercayakan sebagai koordinatornya kepada Fatimah MPd, Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kota Banda Aceh, sekaligus guru bahasa Indonedia di SMAN 3 Banda Aceh.
“Literasi harus dibangun sebagai ekosistem, bukan sekadar aktivitas tambahan di sekolah yang dapat diwujudkan melalui kegiatan seperti pojok baca di kelas, program membaca rutin, serta diskusi atau penulisan karya sederhana oleh siswa,” ujarnya.
Murthalamuddin ikut mendorong peserta FGD untuk lebih aktif dalam memilih dan mengusulkan buku-buku yang menarik bagi siswa, khususnya karya fiksi yang dekat dengan kehidupan mereka. Pendekatan ini dinilai penting untuk membangun ketertarikan emosional siswa terhadap bacaan.
“Strategi literasi harus disesuaikan dengan minat dan psikologi pembaca muda, sehingga pemilihan bahan bacaan yang relevan dan melibatkan siswa secara aktif menjadi kunci penting dalam meningkatkan minat baca,” jelasnya
Murthalamuddin mengharapkan sekolah mampu menciptakan ruang-ruang literasi yang hidup, termasuk melalui lomba menulis, diskusi buku, hingga publikasi karya siswa. Upaya ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan keterampilan berbahasa siswa.
“Literasi harus menjadi fondasi utama dalam membangun kemampuan komunikasi, nalar, serta daya pikir kritis siswa secara berkelanjutan,” ucapnya.
Kadisdik Aceh menambahkan bahwa literasi tidak hanya menjadi program sesaat, tetapi menjadi budaya yang mengakar di lingkungan sekolah.
Hal ini mengarah pada satu tujuan besar: menciptakan generasi yang mampu berpikir, memahami, dan mengekspresikan gagasan secara mandiri melalui bahasa dan tulisan.
Semntara itu, Mukhlis A. Hamid menegaskan bahwa peran guru sangat strategis dalam mendorong siswa aktif menulis berbagai bentuk karya, mulai dari cerita, opini hingga pengalaman sehari-hari.
“Kebiasaan menulis yang diiringi publikasi akan melatih siswa lebih terbuka terhadap kritik dan masukan, sehingga budaya menulis perlu dibangun sejak dini sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Mukhlis menyoroti bahwa kelemahan utama saat ini masih berada pada aspek literasi. Ia menegaskan bahwa literasi tidak hanya sebatas membaca, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, mengolah, dan mengekspresikan gagasan melalui bahasa, sehingga diperlukan keseriusan semua pihak untuk meningkatkan kualitas tersebut.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari berbagai elemen, termasuk pemerintahan dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan literasi.
“Pemerintah dapat berperan melalui penyediaan fasilitas seperti taman baca, perpustakaan gampong, serta dukungan terhadap berbagai kegiatan literasi masyarakat,” jelasnya
Dengan adanya kolaborasi antara sekolah serta didukung penuh oleh Dinas Pendidikan Aceh, Mukhlis optimistis gerakan literasi dapat berkembang lebih luas dan memberikan dampak nyata.
“Ia berharap sinergi lintas sektor mampu mendorong lahirnya generasi muda yang gemar membaca dan menulis, serta menegaskan bahwa keberhasilan literasi sangat ditentukan oleh kerja sama bersama,” tutupnya. (***)
BIMnews.id – LINA















