BIMnews.id | Banda Aceh
Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menegaskan pentingnya gerakan “Bela dan Beli Produk SMK” sebagai upaya memperkuat pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) di sekolah menengah kejuruan (SMK) di Aceh.
Penegasan itu disampaikan saat membuka Rapat Pengelolaan BLUD Dinas Pendidikan Aceh Tahun 2026 di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Senin, 18 Mei 2026. Kegiatan tersebut dihadiri seluruh kepala cabang Dinas Pendidikan Wilayah, kepala SMK BLUD, serta staf ahli Dinas Pendidikan Aceh.
Dalam arahannya, Murthalamuddin menilai pengelolaan BLUD SMK tidak boleh hanya berhenti pada penyusunan rencana bisnis di atas kertas. Menurutnya, seluruh sekolah harus mulai membangun ekosistem usaha yang saling mendukung agar produk dan jasa yang dihasilkan SMK benar-benar hidup dan berkembang.
“Mulai hari ini saya ingin ada gerakan bela dan beli produk SMK. Kalau ada produk sekolah kita sendiri, maka utamakan beli di SMK,” kata Murthalamuddin.
Ia menjelaskan, setiap SMK memiliki potensi usaha berbeda sesuai karakter wilayah masing-masing. Karena itu, sekolah diminta tidak memaksakan jenis usaha yang sama, melainkan menggali potensi lokal yang tersedia di daerah masing-masing.
Murthalamuddin mencontohkan, sekolah di daerah pertanian atau perkebunan dapat mengembangkan produk berbasis hasil alam setempat, sementara SMK dengan jurusan tata busana atau teknik harus mampu menghasilkan produk dan jasa yang dapat dipakai langsung oleh masyarakat maupun pemerintah.
Menurutnya, keberhasilan BLUD tidak hanya diukur dari besarnya pendapatan, tetapi juga dari terbukanya ruang praktik nyata bagi siswa. Dengan demikian, siswa tidak sekadar belajar teori di ruang kelas, tetapi memahami langsung proses produksi, pemasaran, hingga transaksi usaha.
“Kalau BLUD hidup, maka ruang praktik anak-anak kita juga semakin luas. Anak-anak harus belajar berdasarkan pengalaman nyata,” ujarnya.
Murthalamuddin juga meminta kepala cabang dinas dan kepala sekolah aktif melakukan evaluasi terhadap unit usaha yang belum berkembang. Usaha yang dinilai tidak potensial diminta dikaji ulang agar tidak membebani sekolah.
Ia berharap gerakan bela dan beli produk SMK dapat menjadi budaya bersama di lingkungan pendidikan Aceh, sehingga sekolah kejuruan mampu tumbuh mandiri sekaligus melahirkan lulusan yang siap menghadapi dunia kerja dan dunia usaha.(***)
BIMnews.id – LINA














